Thursday, October 18, 2012

Life is full of CHOICES

Sering kali saya mendengar kalimat: "lo sih salah pilih" atau "makanya jangan asal pilih". Kalimat itu sering terucap oleh kita ataupun semua orang disaat kita menyesali apa yang sudah kita beli ataupun masalah lainnya. 

Dulu, waktu saya ABG saya sering dinasihati oleh orang tua, untuk jangan salah memilih teman. Karena teman bisa membuat kita kejalan yang baik ataupun sebaliknya. Disaat saya beranjak dewasa, orang tua menasihati untuk jangan salah memilih calon suami. Bahkan sampai saat ini pun nasihat orang tua untuk tidak salah memilih masih saja sering saya dapatkan. 

Yes, selama hidup, beragam macam pilihan akan selalu ada. Mau pilih makan makanan Indonesia atau Western? Mau beli baju yang mahal atau murah? Mau nonton comedy romantic atau action? Atau mau pilih jadi manusia yang happy atau unhappy? Dan semua pilihan di tangan kita, walau terkadang opini sekitar juga menjadi bahan acuan kita untuk memilih.

Saat ini, setelah saya sudah menikah lebih dari 3 tahun, saya memilih untuk jadi Ibu Rumah Tangga. Pilihan yang tidak mudah dan sulit juga untuk dijalani. Bayangkan setelah 9 tahun bekerja, sekarang saya harus dirumah mengurus rumah tangga. 

Satu bulan pertama, i was really enjoy being a housewife. Saya mempunyai banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak pernah saya lakukan selama bekerja. Tidur malam - bangun siang dapat saya lakukan, novel-novel yang sudah lama saya beli akhirnya dapat saya baca, nonton DVD tanpa di ganggu suami pun kerap saya lakukan. Sungguh luar biasa. Dan perlahan-lahan rasa enjoy itu hilang dibulan ke-empat. 

Rasa kesepian melanda, rasa tidak berguna pun melanda. Apalagi uang di tabungan juga sudah mulai menipis, karena gaji yang saya terima hanya satu yaitu dari suami. Biasanya 2 gaji yang saya terima, tapi sekarang..... 

Bukan hal yang mudah untuk melewati semua itu. Berdoa dan curhat kepada orang yang kita cintai adalah jalan yang terbaik. Beruntung saya memiliki sahabat yang sudah mengenal saya sejak SMP. Beruntung juga saya juga memiliki orang tua (terutama Mama) dan suami yang bisa terus mensupport saya. Hingga pada akhirnya saya sadar, bahwa menjadi Ibu Rumah Tangga adalah pilihan yang tepat untuk saya saat ini, dikarenakan ada hal yang ingin saya capai.

Tujuan menikah saya dan suami seperti kebanyakan pasangan, yaitu karena saling mencintai dan ingin memiliki keturunan. Sayangnya tujuan kami untuk memiliki keturunan belum dapat diwujudkan. Mungkin bagi beberapa orang belum memiliki keturunan dalam waktu 3 tahun adalah biasa, karena kurun waktu masih belum terlalu lama. Tapi bagi saya dan suami 3 tahun dalam penantian bukanlah hal yang sebentar. Maka dari itu saya mencoba untuk beristirahat di rumah dengan harapan bisa memiliki momongan. Karena ada beberapa teman yang seperti itu. Setelah beristirahat di rumah, ternyata mereka hamil. Mungkin karena tidak lagi tekanan atau stress seperti pada saat di kantor.

Jangan stress!! Akhirnya kalimat itu yang saya dengar dari Mama, suami dan sahabat saya. Sekejap saya tersadar, bahwa apa yang mereka katakan benar. Believe it or not, stress memicu otak untuk mengirim sinyal yang mempengaruhi hormon pengendali ovulasi. Menurut penelitian di Amerika Serikat, stress bisa menurunkan kualitas sperma dan sel telur hingga menurunkan hasrat untuk untuk berhubungan seks (source http://www.ayahbunda.co.id/ ).

Bersyukur bisa dikelilingi orang-orang yang menyayangi saya. Dan bersyukur Tuhan menyadarkan saya melalui mereka. Sehingga saya sadar, bahwa pilihan saya untuk berhenti bekerja karena saya ingin memiliki keturunan. Dan saya harus bisa menghindari stress sebagai salah satu penghalangnya.Semenjak itu saya memilih untuk bisa enjoy dengan kehidupan saya saat ini.

Mungkin menjadi Ibu Rumah Tangga bukan pilihan yang tepat untuk orang lain. Tapi bagi saya menjadi Ibu Rumah tangga merupakan pilihan yang tepat saat ini. Dan saya sangat menikmati disaat saya harus masak untuk suami. For me, cooking could help me to let stress away.

Dan saat ini saya ingin menghilangkan anggapan miring orang lain yang mengatakan bahwa menjadi Ibu Rumah Tangga akan kehilangan teman, menjadi Ibu Rumah Tangga membuat kita tidak mengetahui hal-hal diluar sana ataupun menjadi Ibu Rumah Tangga tidak bisa menghasilkan uang.

Menghasilkan uang?? Ya, saya ingin menjadi Ibu Rumah Tangga yang mempunyai pemasukkan atau uang sendiri. Bertambah satu lagi tujuan hidup saya. Diantara tujuan hidup yang begitu banyak, kini 2 tujuan hidup yang menjadi prioritas hidup saya, yaitu menjadi seorang Ibu dan menjadi wirausaha. Mungkin bukan hal yang mudah, tapi segala sesuatu dimulai dari mimpi. Dengan mimpi manusia bisa mengetahui apa yang harus digapai dan bagaimana cara menggapainya...

Entah apa yang meyakinkan saya saat ini. Tapi ada satu magic word yang saya miliki saat ini, yaitu Man Jadda Wajada (barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil - "if there is a will there is a way"). Saya sebut magic word, karena setiap saya mengingat kalimat tersebut hati saya menjadi penuh dengan semangat. Dan saya pun berpikir, setiap niat baik Insya Allah akan diberikan jalan.

No comments:

Post a Comment